Search

Home / Khas / Edukasi

Gedong Kirtya, Museum Menyimpan Lontar dan Buku Tua

Editor   |    01 Mei 2023    |   16:28:00 WITA

Gedong Kirtya, Museum Menyimpan Lontar dan Buku Tua
Salah satu koleksi koleksi lontar Museum Gedung Kirtya, Buleleng. (foto/suteja)

BULELENG bukan hanya terkenal akan pariwisatanya, melainkan tradisi dan kebudayaan yang dimiliki. Melalui sebuah museum berbagai cerita dan sejarah tersimpan dalam kenangan masa lampau.

Salah satunya Museum Gedong Kirtya, berlokasi di Jalan Veteran, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng yang menyimpan warisan leluhur secara turun temurun di Bali. Naskah–naskah dalam bentuk lontar atau Pustaka Lontar dan buku-buku tua tersimpan baik di gedung ini.

Kepala UPTD Gedong Kirtya Dewa Ayu Putu Susilawati mengungkapkan bahwa Gedong Kirtya awalnya lahir dari cendikiawan terhadap budaya yang tidak lepas dari jasa dua warga Belanda bernama FA Liefrinck dan Dr. Van Der Tuuk.

"Mereka mengadakan rapat di Kintamani, kemudian hasil rapat tersebut lahirlah yayasan bernama Stichting Liefrinck Van Der Tuuk tanggal 2 Juni 1928 yang menitikberatkan terhadap kegiatan penyimpanan lontar, lalu namanya itu akhirnya diubah menjadi Kirtya Liefrinck Van Der Tuuk, itu atas usulan dari I Gusti Putu Jelantik," tuturnya, Senin (1/5/2023) di Buleleng.

Gedong Kirtya terdapat ribuan koleksi lontar tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak dengan panjangnya sekitar 60 centimeter. Hal itu semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Dimana, barisan paling atas Lontar Sasak, isinya tentang budaya Sasak. Kemudian Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat).

"Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Cuma dalam Lontar Satua yang hanya menggunakan bahasa Bali," terangnya.

Pada areal museum ini terbagi menjadi empat ruangan. Ruang 1 menyimpan lontar atau buku tua, Ruang 2 tempat salinan lontar, Ruang 3 tempat administrasi dan Ruang 4 sebagai tempat pameran.

Terkait kedatangan wisatawan, Susilawati menyampaikan hampir setiap hari ada pengunjung yang datang ke museum Gedong Kirtya, Baik itu dari anak sekolah, sampai dengan wisatawan mancanegara.

"Biasanya petugas kami memperagakan bagaimana cara menulis lontar kepada pengunjung," ujarnya.

Terakhir, Susilawati berharap lontar yang ada di Gedong Kirtya tetap terlindungi, terjaga dan terlestarikan dengan baik serta masyarakat mau datang untuk mengenal dan mengetahui bahwa kita mempunyai lontar yang di dalamnya mengandung ilmu bekal luar biasa.

Museum ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul 08.00 hingga 16.00. Kecuali hari Jumat buka sampai pukul 13.00. Adapun tarif yang dikenakan jika berkunjung ke Museum Gedong Kirtya, yakni, anak-anak Rp 3 ribu, dewasa Rp 5 ribu, dan mancanegara Rp 25 ribu. (suteja)


Baca juga: