Search

Home / Muda / Tren

Fenomena Remaja Bangga Berkain Batik

Editor   |    04 Oktober 2023    |   21:54:00 WITA

Fenomena Remaja Bangga Berkain Batik
Girlband asal Korea Selatan MAMAMOO mengenakan batik. (dok/instagram mamamoo_officia)

BATIK merupakan salah satu produk kebanggaan bangsa. Tidak ada anggapan ‘kuno’, muda-mudi kini bangga melestarikan produk budaya tersebut. Mengikuti perkembangan moda pakaian yang ada, tren menggunakan batik atau berkain tidak pernah legam oleh waktu.

Sebagai wujud pelestarian budaya di tengah derasnya arus budaya asing, penggunaan batik/berkain pada konser-konser menjadi suatu hal yang menarik. Belum lama ini, gerakan menggunakan batik atau berkain menjadi suatu fenomena yang ramai di kalangan remaja atau anak muda.

Gerakan berkain tersebut dapat dikatakan sebagai suatu hasil dari pengamatan orang-orang pada bidang kreatif untuk mengglobalkan apa yang lokal. Seperti halnya konser K-POP pada 23 September 2023 lalu yang dilaksanakan di stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, yakni konser SMTown.

Patahkan stigma ‘kuno’ ketika berkain. Ribuan penggemar yang hadir pada konser SMTown dengan bangga kenakan identitas budaya tersebut. Puji Karyanto SS MHum, selaku dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) turut menanggapi fenomena tersebut.

Dosen yang akrab disapa Ki Puji tersebut menyampaikan bahwa fenomena tersebut dapat menjadi upaya para penggerak kreatif dalam mengglobalkan produk lokal.

“Kecenderungan itu ditangkap oleh orang-orang Indonesia yang bergerak dalam dunia kreatif. Sehingga, kemudian dari situ mereka berpikiran bagaimana kemudian apa yang tadinya lokal, bisa diglobalkan,” ungkap Ki Puji melalui keterangan tertulis, Rabu (4/10/2023).

Angin Segar Globalisasi

Tanpa disadari, mendunianya produk kebudayaan lokal berakar dari adanya globalisasi. Meski sebelumnya globalisasi kerap kali dianggap sebagai hal yang berdampak negatif terhadap budaya serta adat istiadat, kini masyarakat turut merasakan angin segar dari globalisasi tersebut.

“Ini tidak lepas dari apa yang kita pahami dari Glokalisasi, yang mana orang-orang tadinya curiga dengan globalisasi yang dianggap sebagai ancaman dan musuh, yang dianggap sebagai phobia atau bahkan paranoid,” jelas Ki Puji

Ia mengatakan bahwa tanpa adanya globalisasi, aliran musik saat ini tidak akan beragam seperti sekarang. Segalanya akan serba Amerika dan kebarat-baratan.

Sama halnya dengan fenomena berkain pada penyelenggaraan konser K-Pop, fenomena tersebut menurut Ki Puji patut menjadi kabar menggembirakan. Melihat masih adanya semangat berbatik di kalangan muda-mudi.

Tidak Perlu Khawatir Batik Diakui Asing!

Beberapa kasus ke belakang, banyak pemberitaan mengenai pengakuan produk budaya lokal oleh asing. Beberapa di antaranya yakni lagu anak-anak, alat musik tradisional, hingga batik.

Namun Ki Puji menegaskan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran jika asing turut menciptakan corak batiknya masing-masing. “Kita harus menerima secara gembira, harus merayakannya. Hal tersebut sebagai berkah bahwa diplomasi budaya kita berhasil seperti negara-negara lain,” ujarnya.

Sama seperti produk kuliner asing yang masuk dan diterima oleh lokal, penyesuaian selera terhadap budaya asing yang masuk merupakan suatu hal yang wajar. Munculnya corak baru menjadi tanda keberhasilan diplomasi budaya lokal.

Ki Puji menambahkan bahwa, “Ketika negara asing mengembangkan batik dengan versi mereka itu berarti keberhasilan diplomasi kita.” (devi/sut)


Baca juga: ChatGPT Bisa Gantikan Peran Google? Begini Penjelasan Dosen Unair