Search

Home / Khas / Edukasi

RTH Bung Karno Miliki Perpustakaan Digital

Editor   |    03 Juni 2023    |   19:04:00 WITA

RTH Bung Karno Miliki Perpustakaan Digital
Kepala DAPD Buleleng Era Oktarini memperlihatkan sejumlah koleksi foto-foto Bung Karno di Museum Sejarah Bung Karno yang telah dilengkapi scan barcode, Sabtu (3/6/2023) di Singaraja. (foto/suteja)

KINI Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno Singaraja dilengkapi dengan perpustakaan konvesional dan digital yang memajang koleksi buku-buku dan foto-foto Bapak Proklamator Indonesia tersebut.  

Sebagaimana diketahui, Kota Singaraja adalah tempat kelahiran dari ibunda Presiden RI pertama Sukarno, Nyoman Rai Srimben. Tak heran, Kota Singaraja dan Bali mempunyai makna yang cukup istimewa bagi keluarga Bung Karno

Bahkan putri sulung Bung Karno yang sempat menjadi Presiden RI Kelima, Megawati Soerkarnoputri berulang kali menyebut dirinya punya ikatan historis dan emosional dengan Singaraja dan Pulau Bali.

Ketua Umum PDIP itu saat berkunjung ke Pulau Dewata juga kerap mengungkapkankan jika dirinya memiliki seperempat berdarah Bali yang diturunkan dari garis ibu dari sang ayah alias sang nenek, Nyoman Rai Srimben.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Kabupaten Buleleng Made Era Oktarini mengatakan bahwa peluncuran perpustakaan digital Bung Karno itu diluncurkan pada Kamis (1/6/2023). Artinya bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang dicetuskan Bung Karno sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

“Di era digital seperti sekarang, masyarakat sudah sangat dimanjakan dengan berbagai pilihan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perpustakaan ini adalah sebagai wadah menyalurkan informasi dengan cepat, tepat dan global serta dapat diketahui masyarakat luas tentang sejarah dari Bung Karno,” jelas Made Era, Sabtu (3/6/2023) di Singaraja.

Jadi lanjut dia, pengunjung RTH Taman Bung Karno tidak hanya disuguhkan patung dan panggung stage Singa Ambara Raja dan Museum Sejarah Sukarno serta sang ibu Nyoman Rai Srimben saja.

Namun kali ini sedikit berbeda, di Museum Sejarah Bung Sukarno juga telah dipercantik dengan buku-buku sejarah tentang Bung Karno lengkap beserta fotonya. Di sana masyarakat akan dapat memilih untuk membaca buku sejarah Bung Karno secara konvensional ataupun melalui digital.

Menurut Era, Masyarakat dapat mengunjungi perpustakaan ini secara umum karena di sini tersedia 130 buku konvensional dan 22 ebook digital. Selain itu, di setiap foto yang terpanjang cantik pada dinding perpustakaan juga sudah terpasang barcode.

"Pengunjung hanya perlu scan barcode saja pada fotonya dan kemudian bisa membaca langsung sejarahnya di sana. Namun untuk pengunjung yang kurang memahami digitalisasi bisa membaca langsung lewat buku konvensionalnya," jelasnya.

Ia kemudian menuturkan awal mula berdirinya perpustakaan ini merupakan rancangannya dari awal tahun lalu. Bahkan dirinya sempat berkoordinasi kepada Bale Agung Buleleng untuk mencari informasi tentang sejarah Bung Karno.

Ke depan pihaknya akan terus mengembangankan perpustakaan ini dan akan ditingkatkan mengingat saat ini terkendala kapasitas server yang belum memadai. "Nantinya ini tentu akan kami kembangkan. Perpustakaan berbasis e-book ini memerlukan server yang kuat, dan kita belum bisa maksimalkan, secepatnya akan dikoordinasikan dengan Dinas Kominfosanti agar bisa bersinergi dalam pengembangan terutama pada servernya," bebernya.

Lebih lanjut dikatakan, bagi peminat baca yang tempat tinggalnya jauh dari lokasi RTH Bung Karno, tidak perlu khawatir karena DPAD juga sudah menyiapkan aplikasi digital perpustakaan yang bisa diakses dari rumah dengan situs slim.bulelengkab.go.id.

“Jadi pengunjung bisa akses dari rumah dan menggali informasi melalui smartphone atau computer,” ucapnya.

Sebagai penutup, ia berharap, melalui perpustakaan ini dapat menumbuhkan minat baca dan meliterasi sejarah khususnya Bung Karno. “Karena perpustakaan tidak hanya tempat untuk membaca saja, melainkan juga sebagai sarana untuk memahami isi dari buku tersebut,” terangnya. (suteja)

 


Baca juga: Gedong Kirtya, Museum Menyimpan Lontar dan Buku Tua