Search

Home / Sorot / Sosial Budaya

Pahlawan Tak Tercatat: Kisah Pejuang Desa Bali di Masa Revolusi

Nyoman Sukadana   |    11 Agustus 2025    |   05:27:00 WITA

Pahlawan Tak Tercatat: Kisah Pejuang Desa Bali di Masa Revolusi
Warga desa Bali ikut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan pasca-1945, meski nama mereka jarang tercatat dalam sejarah resmi. (podiumnews)

SETELAH proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Di Bali, medan revolusi pasca-proklamasi menghadirkan babak baru, di mana warga desa ikut angkat senjata dan mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kolonialisme Belanda. Namun, banyak di antara mereka yang tak pernah masuk dalam buku sejarah resmi.

Catatan dalam Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Bali 1945–1949 terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali (2010) menyebut bahwa hampir di setiap desa terdapat kelompok pejuang rakyat. Mereka terdiri dari petani, pedagang, nelayan, dan pemuda desa yang dipersenjatai dengan bambu runcing, senjata rampasan, atau senjata rakitan.

Sejarawan Bali, Prof. Dr. I Ketut Ardhana, dalam wawancaranya yang dimuat di Jurnal Sejarah Citra Lekha (2017) mengatakan:

“Perjuangan rakyat Bali pasca-proklamasi adalah perjuangan kolektif. Tidak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat jelata di medan tempur. Semua memiliki tujuan yang sama, yakni mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.”

Salah satu kisah yang kerap diceritakan turun-temurun di Desa Marga, Tabanan, adalah keberanian kelompok pemuda desa yang membantu logistik untuk pasukan I Gusti Ngurah Rai menjelang pertempuran Puputan Margarana 1946. Mereka berjalan kaki belasan kilometer membawa beras, air, dan obat-obatan, menghindari patroli Belanda yang menguasai jalan utama.

Tidak hanya di Tabanan, desa-desa di Buleleng, Karangasem, dan Gianyar juga menjadi basis gerilya. Rumah-rumah penduduk dijadikan tempat persembunyian dan pos komunikasi. Di beberapa daerah, perempuan desa berperan penting sebagai kurir pesan dan penyedia makanan untuk pasukan, seperti yang dicatat oleh peneliti Ni Luh Made Wiratini dalam buku Perempuan Bali dalam Revolusi 1945–1949 (2015).

Sayangnya, setelah kemerdekaan diakui secara de jure pada 1949, banyak nama pejuang desa ini tak pernah masuk arsip resmi. Tidak ada monumen besar untuk mengenang mereka, hanya cerita yang hidup di ruang keluarga atau pertemuan adat.

Kisah-kisah ini mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah hasil kerja kolektif. Mengutip kata-kata Bung Karno dalam pidatonya pada 1956:

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk mereka yang tak disebut namanya.”

Hari ini, mengenang para pejuang desa Bali di masa revolusi adalah bagian dari merawat ingatan sejarah. Mereka mungkin tak tercatat, tetapi keberanian dan pengorbanannya telah menjadi fondasi bagi kemerdekaan yang kita nikmati sekarang.

(tim redaksi)

Baca juga :
  • Puputan Klungkung 1908: Warisan Semangat Perlawanan
  • Monumen Bajra Sandhi: Simbol Perjuangan Rakyat Bali
  • Polisi Kolonial: Penjaga Kuasa Belanda